admin , 21 Jul 2023

“CCSN (Centre for Cultural Studies of Nusantara): Nusantara Kini dan Nanti” merupakan salah satu talk show yang diselenggarakan Unoflatu pada 6 Juni 2023. Dalam talk show ini, Unoflatu mengundang tiga narasumber yang ahli dalam bidangnya masing-masing yang dimoderatori oleh Dr. Dra. Christine C. L., M.Ds.

Mengenalkan Arsitektur Nusantara sebagai Identitas Budaya:

Prof. Dr. Josef Prijotomo, Ir., M.Arch., lahir di Malang pada tahun 1948. Ia menempuh pendidikan S-1 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya dan S-2 di Iowa State University, Amerika Serikat. Fokus penelitiannya pada Arsitektur Nusantara membawa ia memperoleh gelar doktor arsitektur (2006) dan guru besar arsitektur (2008) dari ITS. Dari sejak tahun 1990-an hingga 2015, ia menjadi dosen luar biasa dan dosen tamu di berbagai universitas, serta menjadi kepala Laboratorium Sejarah Arsitektur di ITS hingga pensiun pada tahun 2018.

Pada tahun 2015, Prof. Josef Prijotomo dianugerahi Satya Lencana Kebudayaan sebagai perintis Arsitektur Nusantara oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayan. Ia juga dikenal sebagai co-founder modern-Asian Architecture Network (mAAN) dan Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia (LSAI). Saat ini, ia masih aktif sebagai pembimbing mahasiswa doktoral dan tenaga pengajar di Universitas Katolik Parahyangan.

Prof. Josef Prijotomo telah menulis beberapa buku, dan bukunya yang berjudul “Prijotomo Membenahi Arsitektur Nusantara” memperoleh penghargaan Peringkat I Buku (Pustaka) Terbaik 2020 di bidang Arsitektur dari Perpustakaan Nasional. Pidato Guru-besarnya pada tahun 2017 juga diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh TU-Delft untuk peredaran internasional.

Dalam pemaparannya, Prof. Josef Prijotomo membahas pemikirannya tentang Arsitektur Nusantara dengan judul “Arsitektur Nusantara: menyimak kekinian dan keesokan”. Ia menyoroti bahwa dalam arsitektur Indonesia, belum ada kepastian dan ketegasan dari otoritas terkait arsitektur Nusantara. Arsitektur Nusantara masih terpengaruh oleh impor ilmu arsitektur Eropa dan Amerika, dan sering dianggap sebagai arsitektur tradisional atau vernakular. Namun, Prof. Josef Prijotomo berpendapat bahwa arsitektur Nusantara bukanlah sinonim dari arsitektur tradisional dan vernakular, melainkan suatu perumusan untuk mengkritisi pandangan dari para ahli seperti Rapoport dan Waterson.

Dalam bukunya, “An Outline of European Architecture” (1943), Sir Nikolaus Pevsner membedakan antara arsitektur dan bangunan. Ia menyatakan bahwa “Lincoln Cathedral adalah arsitektur; gudang sepeda adalah bangunan”. Hal ini menunjukkan bahwa dalam arsitektur Eropa terdapat perbedaan antara yang dianggap sebagai arsitektur dan yang dianggap sebagai bangunan. Namun, di Indonesia, arsitektur yang diajarkan sejak tahun 1920 hingga sekarang adalah arsitektur Eropa, sedangkan Arsitektur Nusantara tidak diajarkan secara eksplisit.

Prof. Josef Prijotomo juga membahas perkembangan arsitektur Eropa mulai dari klasik hingga modern, dan ia berpendapat bahwa arsitektur Eropa memiliki satu langgam pada setiap periode tertentu. Namun, ia menyatakan bahwa Arsitektur Nusantara lebih cocok ditempatkan dalam kategori purna modern (post-modern) daripada neo-modern. Menurutnya, arsitektur Nusantara masa depan haruslah mencerminkan identitas Indonesia secara penuh sambil tetap mempertimbangkan pengaruh global.

Nusantara: Tantangan dan Jawaban pada Masa Bihari, Kiwari, dan Nanti:

Drs. Andi Suwirta, M.Hum., seorang dosen senior Program Studi Pendidikan Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, memaparkan pemikirannya tentang Nusantara dengan judul “Nusantara: Tantangan dan Jawaban pada Masa Bihari, Kiwari, dan Nanti”. Drs. Andi Suwirta adalah seorang akademisi yang sangat berpengalaman dan memiliki keahlian dalam berbagai bahasa seperti Indonesia, Inggris, Melayu, Sunda, dan Jawa. Selain itu, beliau juga aktif menulis artikel opini di surat kabar di Indonesia dan Malaysia serta menjadi pengelola jurnal ilmiah Mindamas.

Pemikiran Drs. Andi Suwirta ini menggambarkan Nusantara dalam berbagai makna, baik secara geografis, geopolitis, maupun geostrategis. Secara geografis, Nusantara merujuk pada gugusan 17.000 pulau yang terhubung satu sama lain, terletak di antara benua Asia dan Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Pasifik. Istilah “Nusantara” dalam konteks geopolitik merujuk pada era Kerajaan Majapahit (1293-1527), di mana gugusan pulau-pulau di luar Jawa mengakui hegemoni kekuasaan pusat dengan cara audiensi dan membayar upeti. Sedangkan dalam konteks geostrategis, Nusantara didefinisikan sebagai Negara Kelautan, Maritim, dan Kepulauan berdasarkan Deklarasi Djuanda tahun 1957 dan Konsep Wawasan Nusantara tahun 1982, yang menyatukan antara Lautan dan Daratan.

Saat ini, Presiden Joko Widodo telah merancang dan melaksanakan relokasi Ibu Kota Negara (IKN) secara bertahap untuk mencapai pemerataan pembangunan dan mengurangi keterpusatan pembangunan di Pulau Jawa. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat pemerintahan di luar Jawa dan mengakomodasi kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

Dalam perspektif sejarah, Denys Lombard (1996) dalam bukunya “Nusa Jawa Silang Budaya” menyatakan bahwa Nusantara memiliki posisi yang sangat strategis secara geografis dan geopolitik. Kawasan ini kaya akan sumber daya alam dan memiliki jumlah penduduk yang besar dengan beragam budaya. Sejarah perkembangan Nusantara dipengaruhi oleh peradaban Hindu-Buddha dari India (abad ke-5 hingga ke-16), peradaban Islam dan Muslim Tiongkok (abad ke-13 hingga sekarang), serta peradaban Barat (abad ke-16 hingga sekarang). Penjajahan Belanda yang berlangsung dari tahun 1602 hingga 1799 dan 1824 hingga 1942 mengganti sebutan “Nusantara” dengan label baru seperti “Oost-Indische, Hindia Tinur, Hindia Belanda, Hindia Olanda”. Nama “Indonesia” sendiri baru populer pada tahun 1920-an yang diusulkan oleh para mahasiswa Indonesia di Belanda yang mengganti nama “Indische Vereeniging” menjadi “Perhimpunan Indonesia” dan menerbitkan majalah “Indonesia Merdeka”.

Sebagai sebuah negara-bangsa, Indonesia telah menghadapi berbagai tantangan sepanjang sejarahnya, mulai dari Zaman Revolusi Kemerdekaan (1945-1950), Zaman Demokrasi Liberal (1950-1959), Zaman Demokrasi Terpimpin (1959-1968), Zaman Orde Baru (1968-1998), hingga Zaman Orde Reformasi (1998-sekarang). Salah satu tantangan yang dihadapi adalah menjaga keseimbangan antara keragaman dan kesatuan dalam masyarakat, seperti yang tercermin dalam Sumpah Pemuda tahun 1928. Selain itu, Indonesia juga pernah menghadapi tantangan antara kekuatan sentrifugal dan sentripetal, seperti dalam kasus PRRI/PERMESTA pada tahun 1958-1961. Tantangan lainnya meliputi konflik antara ekstrim kiri dan ekstrim kanan, seperti kasus PKI dan DI/TII, serta tantangan dalam pelaksanaan pembangunan yang melibatkan pemikiran dan aksi konkret.

Melalui pemikiran ini, Drs. Andi Suwirta memberikan sudut pandang yang mendalam mengenai kompleksitas dan dinamika Nusantara sebagai wilayah yang kaya budaya dan strategis. Dalam menghadapi tantangan masa kini dan masa depan, penting bagi Indonesia untuk terus membangun kesepakatan dan mengelola keragaman dengan bijaksana, serta menjaga keseimbangan antara berbagai kepentingan dalam pembangunan negara ini.

Menghidupkan Kembali Keajaiban Aniwayang untuk Anak-Anak:

Daud Nugraha, S.Sn., berbagi kisah tentang perjalanan hidupnya sebagai seorang seniman dan pencipta Aniwayang. Daud Nugraha menempuh pendidikan S-1 Desain Komunikasi Visual di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung dari tahun 2001 hingga 2005. Selama karirnya, beliau memiliki pengalaman yang beragam, mulai dari menjadi asisten dosen dan dosen luar biasa di Institut Teknologi Bandung dan Universitas Bunda Mulia, hingga menjadi seorang guru taman kanak-kanak di Rumah Belajar Semi Palr, Bandung. Namun, karya-karya terbesarnya terletak pada bidang storyboard artist di berbagai studio film, seperti Kartun Studios Malaysia dan Left Pocket Studio di Shanghai, China.

Dalam acara talk show ini, Daud Nugraha menceritakan tentang kecintaannya pada wayang kulit sejak masa kecil. Ia mengingat bagaimana orang tuanya membelikan wayang kulit yang ia mainkan di tepi ranjang. Pengalaman ini membangkitkan minatnya dalam menciptakan sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak, yang pada akhirnya menginspirasinya untuk menciptakan Aniwayang saat bekerja di Shanghai. Aniwayang adalah gabungan animasi dan wayang yang mengisahkan petualangan keluarga kancil (Cila, Cili, dan Cilo) yang tinggal di Desa Timun. Inspirasi awalnya berasal dari lagu “Si Kancil Anak Nakal” yang sangat populer di kalangan anak-anak.

Dalam pembuatan Aniwayang, Daud Nugraha menggunakan teknik yang unik. Wayang kulit tradisional diubah menjadi bentuk kartun yang dipotong dan dilubangi, kemudian disemprot dengan cat hitam. Dalam proses ini, ia banyak dibantu oleh istrinya, dan saat melakukan pertunjukan mendalang, ia juga dibantu oleh istrinya dan kedua anaknya. Pengisi suara untuk tokoh Cila, Cili, dan Cilo dilakukan oleh para profesional, begitu pula dengan musiknya. Berkat keahlian dan dedikasinya, Daud Nugraha berhasil menghidupkan kembali keajaiban wayang kulit klasik dan mengadaptasikannya menjadi sesuatu yang menarik bagi anak-anak masa kini.

Keberhasilan Aniwayang tidak berhenti di situ. Daud Nugraha juga menciptakan desain batik yang menggabungkan tokoh-tokoh karakter Aniwayang dengan motif klasik batik. Tujuan dari desain ini adalah untuk menginspirasi generasi muda agar lebih menyukai batik, warisan budaya Indonesia yang kaya. Selain itu, tokoh Cila, Cili, Cilo, dan ayam juga dijadikan merchandise mainan untuk anak-anak.

Pencapaian Daud Nugraha dalam menciptakan Aniwayang dan desain batik yang unik adalah pengakuan dari industri. Beliau mendapatkan nominasi sebagai Best Short Animated pada Festival Film Indonesia tahun 2022 dan meraih penghargaan pertama dalam 1001 Inspiration Design Festival, Concept Magazine pada tahun 2007. Melalui karyanya, Daud Nugraha mengajak anak-anak untuk mengeksplorasi keajaiban budaya Indonesia dengan cara yang menyenangkan dan relevan dengan zaman sekarang.

Dalam pemaparannya, Daud Nugraha telah membuktikan bahwa karya seni dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan dan mempertahankan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda. Ia menjadi contoh bagi banyak orang bahwa dengan dedikasi, kreativitas, dan cinta terhadap budaya sendiri, kita dapat menciptakan sesuatu yang unik dan berharga bagi bangsa ini.

Dalam talk show yang penuh inspirasi ini, setiap pembicara memaparkan pemikiran dan kontribusinya dalam bidangnya masing-masing. Prof. Josef Prijotomo membahas tentang Arsitektur Nusantara, Drs. Andi Suwirta membahas tentang konsep Nusantara secara luas, dan Daud Nugraha memperkenalkan karya-karyanya dalam animasi dan desain. Secara keseluruhan, setiap narasumber mewakili pentingnya memperkenalkan dan mempertahankan identitas budaya Indonesia, baik dalam bidang arsitektur maupun seni, sebagai bagian dari upaya menjaga kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia serta memperkuat jati diri bangsa.