Stanislaus Joshua , 08 Des 2023

Ada satu lagi sponsor Maranatha Creative Industry Showcase Day (MCISD) 2023 yang datang dari bidang desain interior: Palem Living. Setelah lulus dari program S-1 Desain Interior di FSRD Maranatha, Kak Ivana Ardelia bergabung dengan Palem Living (@palemliving), sebuah perusahaan di Jakarta Selatan.

 

“Gua kira, belajar itu berenti ketika gua lulus kuliah. Ternyata salah besar. Pas gua lulus, justru gua belajar lebih banyak lagi,” ujar Kak Ivana.

 

Waktu berdiri di tahun 2020, awalnya Palem Living hanya fokus bergerak di bidang furnitur artisan, tapi sekarang melebar jadi konsultan desain interior juga. Kak Ivana udah menangani banyak proyek di Palem Living, entah desain hunian (interior rumah, apartemen) atau komersial (seperti interior kantor atau galeri pemasaran).

 

Palem Living punya SOP 5 langkah untuk mengolah proyek. Pertama, ada programming, tahap untuk survei lokasi dan kebutuhan klien. Di tahap ini, desainer Palem Living mempelajari kebiasaan klien demi bikin desain yang relevan. Hal kecil pun bisa jadi poin penting, lho – misalnya, dengan tahu apakah klien sering bawa banyak tas atau apakah klien sering langsung cuci tangan begitu sampai rumah, desain ruang depan bisa diatur supaya memudahkan rutinitas mereka.

 

Berikutnya, ada concept & development. “[Kita] udah melewati stage yang analytical, sekarang masuk ke stage design.” Ini waktunya untuk bikin konsep, sketsa, dan mood board.

 

Menurut Kak Ivana, sketsa manual itu hal yang wajib dibuat walau udah ada software 3D. Sketching bakal bikin kita lebih punya arah.

 

“Tuang dulu di kertas, orat-oret. Craftsmanship itu bukan cuma nukang … This is also craftsmanship. Inilah expertise kita.”

 

Tahap ketiga adalah budgeting & purchasing. Nggak salah, desainer boleh bikin desain yang mewah, tapi ingat juga bahwa semua klien punya budget yang berbeda.

 

“Memang bener, [desainer] harus punya warna sendiri. You do have your own color. Tapi, sebagai desainer, we need to cater to clients’ needs juga.”

 

Meskipun begitu, budget rendah bukan berarti bikin kualitas desain jadi rendah juga. Batasan budget mendorong Kak Ivana belajar untuk menyesuaikan selaranya yang mewah dengan realita: misalnya dengan mencoba material atau vendor baru yang punya harga miring. Hasilnya, “kliennya suka, harganya masuk, tapi desainnya oke. You didn’t lose your identity.”

 

Tahap execution itu sering nggak terbayang oleh calon desainer interior yang masih kuliah. Kak Ivana masuk kuliah Desain Interior karena sering main The Sims. Beliau kira, kerjaan desainer interior itu segampang duduk di kantor dan bikin gambar … tapi ternyata tidak. Desainer juga harus turun ke lapangan dan konstruksi bareng tukang, sering kali di kondisi yang nggak ideal.

 

Under every pressure, you have to stay as professional as you can. Mau panas, mau hujan … kita ga boleh bilang ‘Aduh, ga mau, ga mau,’ we have to do it.”

 

Alur kerja nggak berhenti waktu pembangunan selesai – masih ada tahap terakhir, yaitu evaluation. Di sini, desainer menilai kelancaran proyek dan belajar dari pengalaman.

 

The process doesn’t stop setelah execution selesai. Tahap ini yang paling besar opportunity-nya to be a better designer. Di sini possibilities-nya untuk berkembang … Selain di concept & development, juga ada di sini.”

 

Semua langkah ini ada untuk mencapai visi Palem Living: membuat “a home, not just a house”. “Ketika tinggal di situ, klien bisa ngerasain satisfaction kerja dengan kita.”

Buat penutup, Kak Ivana ngasih saran untuk tetap rendah hati & selalu belajar. “The mindset you have to have adalah, ‘di atas lu pasti ada atasnya lagi; di atas awan ada awan’. And that’s actually true.

 

Kalo kita mengerjakan sesuatu, kita ga selalu yang paling tau. Kita juga harus belajar dari orang lain. Kita perlu belajar respek orang lain, mau tukang atau kontraktor. Dengan begitu, kita mampu membuka pikiran kita.”

 

Well said, Kak Ivana! Semoga berguna untuk teman-teman semua! (sj)