Nina Nurviana

Indonesia merupakan negeri penghasil rempah yang diminati oleh pedagang dari berbagai negara. Menengok sejarah perjalanan bangsa Nusantara, kekayaan rempah ini menjadi pemicu penjajahan yang menyengsarakan di negeri yang akhirnya diproklamirkan sebagai negara Indonesia. Salah satu rempah Indonesia adalah Kayu manis. Rempah ini berasal dari bagian dalam kulit kayu, beraroma kuat, rasanya manis dan pedas. Penghasil terbesar komoditi ini adalah kabupaten sekitar pegunungan Kerinci di Jambi dan sekitar pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan. Hingga kini produksi kayu manis dilakukan tidak secara komersial tetapi menggunakan kearifan lokal dengan azas penghormatan terhadap alam. Manfaat dari kayu manis adalah memberikan aroma khas dan cita rasa pedas, menghangatkan tubuh, mengawetkan daging dan berkhasiat meningkatkan imunitas. Kayu manis menjadi salah satu bumbu yang istimewa pada perkembangan kuliner di Eropa. Aroma kayu manis ada pada berbagai hidangan pencuci mulut, steak sapi, teh dan wine. Perannya sangat diistimewakan sehingga mulai tahun 1999 setiap tanggal 4 Oktober di Swedia diadakan Cinnamon Bun Day yang awalnya adalah perayaan ulang tahun Hembakningsradet (Dewan Kue Rumah Tangga). Di Amerika Serikat sejak tahun 2019 setiap tanggal 1 November diadakan Cinnamon Day yang diluncurkan oleh perusahaan Mc Cormick & Co., Inc. Di Indonesia bumbu kayu manis banyak ditemukan pada resep makanan pendamping nasi, untuk makanan manis dikenal melalui resep yang berasal dari Belanda pada masa penjajahan. Contohnya, kue lapis legit, kue ontbijkoek, klappertaart, pie apple cinnamon dan biskuit speculaas. Roti rasa kayu manis sebagai sarapan pagi orang Belanda diadopsi oleh orang Indonesia yang dikenal dengan roti gambang. Selain pada kue, aroma kayu manis dipakai sebagai penguat rasa pada minuman orang Jawa seperti wedang uwuh dan pada minuman kopi yang sekarang sedang marak di Indonesia. Aroma kayu manis Indonesia telah mengisi peradaban dan menjadi perasa kuliner berbagai bangsa.