Ferlina Sugata, S.T., M.T.

Profil Diri

Ferlina Sugata menempuh pendidikan Sarjana Teknik Arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan Bandung pada tahun 1998 dan melanjutkan studi Magister Teknik Arsitektur pada tahun 2003 di Universitas Diponegoro Semarang dengan konsentrasi Urban Design. Sejak 2007 hingga sekarang aktif mengajar di Program Studi Sarjana Interior di Universitas Kristen Maranatha. Pada tahun 2017  ia juga mengajar di Institut Teknologi Harapan Bangsa Bandung, dan mulai 2019 mengajar di Program Studi Sarjana Arsitektur di Universitas Kristen Maranatha. Disamping mengajar di perguruan tinggi, Ferlina juga mengajar Binaan UMKM di Koperasi Maju, serta menjadi Mentor di Indonesian School of Entrepreneurship yang merupakan partner Kementrian Koperasi dan UMKM serta kerap menjadi Juri Lomba Kewirausahaan tingkat nasional.

 

Kegiatan Ilmiah

Representasi dan Orientasi Simbol Penghormatan dalam Dinamika Ruang Ibadah Agama Buddha (Studi Kasus: Rumah Ibadah Cetiya di Bandung)

Tjandradipura, Carina and Sugata, Ferlina

2016

Setiap umat beragama pada umumnya memiliki simbol penghormatan untuk memuja keagungan dan kebesaran seseorang yang dianggap penting dalam agama masing-masing. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh perkembangan dunia arsitektur dan penyesuaian aktivitas peribadatan berbeda-beda pula sehingga mempengaruhi munculnya tatanan ruang yang beragam pada salah satu ruang ibadah umat agama Buddha yakni cetiya. Dalam perkembangan bentuk ruang cetiya tersebut, aktivitas dalam cetiya ini pun mengalami perubahan yakni sebagai wadah aktivitas ritual dan interaksi keagamaan sehingga memberikan dampak terhadap esensi makna bagi sebuah aktivitas spiritual. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi sejarah dan perkembangan bentuk, fungsi dan makna cetiya pada masa awal muncul hingga saat ini, dengan mengidentifikasi tipe cetiya di ranah publik dan privat, dan masih difungsikan sesuai awal terbentuknya namun telah mengalami pergesaran dalam aspek wadah fisik dan kontennya; serta mengetahui sejauh mana terjadi pergeseran tersebut dengan menganalisis faktor-faktor pendorong terjadinya hal tersebut. Metode analisis yang digunakan adalah kajian fenomenologis, yakni mencari faktor pendorong dengan teknik kualitatif rasionalistik sehingga teknik pengolahan datanya merupakan analisis hubungan dari kedua variabel yang dijabarkan menjadi faktor-faktor dan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan tabulasi sederhana, sehingga menghasilkan sistematika dari faktor-faktor tersebut. Pada saat ini cetiya telah mengalami perubahan bentuk menjadi sebuah ruang atau bangunan tempat peribadatan pribadi maupun kelompok tertentu, yakni berupa sudut ruangan atau kamar khusus di sebuah fungsi hunian atau kantor. Pergeseran fungsi yang kini terjadi, tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap penataan pola ruang dan tetap dapat memperlihatkan representasi simbol Buddah dengan orientasi ruang memusat serta tetap terjaganya hierarki sebagai ruang ibadah privat dan khusuk walaupun dengan elemen pelingkup dan atribut ruang yang berlainan. Berdasarkan hasil temuan penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa simbol masih dikenal hingga saat ini naumun direpresentasikan secara berbeda dari konsep awalnya yang berupa tempat suci atau penyimpanan benda suci Buddha. Penggunaan nama masih tetap digunakan dan fungsi cetiya sebagai ruang ibadah yang menampung aktivitas penghormatan pun masih dipertahankan.

 

Idealog: Jurnal Desain Interior & Desain Produk, 1 (1). pp. 1-25. ISSN 2477-0566

Ferlina Sugata, S.T., M.T.

630080

NIDN 0406107904


  • ferlina.sugata@art.maranatha.edu

Profil Diri

Ferlina Sugata menempuh pendidikan Sarjana Teknik Arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan Bandung pada tahun 1998 dan melanjutkan studi Magister Teknik Arsitektur pada tahun 2003 di Universitas Diponegoro Semarang dengan konsentrasi Urban Design. Sejak 2007 hingga sekarang aktif mengajar di Program Studi Sarjana Interior di Universitas Kristen Maranatha. Pada tahun 2017  ia juga mengajar di Institut Teknologi Harapan Bangsa Bandung, dan mulai 2019 mengajar di Program Studi Sarjana Arsitektur di Universitas Kristen Maranatha. Disamping mengajar di perguruan tinggi, Ferlina juga mengajar Binaan UMKM di Koperasi Maju, serta menjadi Mentor di Indonesian School of Entrepreneurship yang merupakan partner Kementrian Koperasi dan UMKM serta kerap menjadi Juri Lomba Kewirausahaan tingkat nasional.

 

Kegiatan Ilmiah

Representasi dan Orientasi Simbol Penghormatan dalam Dinamika Ruang Ibadah Agama Buddha (Studi Kasus: Rumah Ibadah Cetiya di Bandung)

Tjandradipura, Carina and Sugata, Ferlina

2016

Setiap umat beragama pada umumnya memiliki simbol penghormatan untuk memuja keagungan dan kebesaran seseorang yang dianggap penting dalam agama masing-masing. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh perkembangan dunia arsitektur dan penyesuaian aktivitas peribadatan berbeda-beda pula sehingga mempengaruhi munculnya tatanan ruang yang beragam pada salah satu ruang ibadah umat agama Buddha yakni cetiya. Dalam perkembangan bentuk ruang cetiya tersebut, aktivitas dalam cetiya ini pun mengalami perubahan yakni sebagai wadah aktivitas ritual dan interaksi keagamaan sehingga memberikan dampak terhadap esensi makna bagi sebuah aktivitas spiritual. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi sejarah dan perkembangan bentuk, fungsi dan makna cetiya pada masa awal muncul hingga saat ini, dengan mengidentifikasi tipe cetiya di ranah publik dan privat, dan masih difungsikan sesuai awal terbentuknya namun telah mengalami pergesaran dalam aspek wadah fisik dan kontennya; serta mengetahui sejauh mana terjadi pergeseran tersebut dengan menganalisis faktor-faktor pendorong terjadinya hal tersebut. Metode analisis yang digunakan adalah kajian fenomenologis, yakni mencari faktor pendorong dengan teknik kualitatif rasionalistik sehingga teknik pengolahan datanya merupakan analisis hubungan dari kedua variabel yang dijabarkan menjadi faktor-faktor dan kemudian dilanjutkan dengan menggunakan tabulasi sederhana, sehingga menghasilkan sistematika dari faktor-faktor tersebut. Pada saat ini cetiya telah mengalami perubahan bentuk menjadi sebuah ruang atau bangunan tempat peribadatan pribadi maupun kelompok tertentu, yakni berupa sudut ruangan atau kamar khusus di sebuah fungsi hunian atau kantor. Pergeseran fungsi yang kini terjadi, tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap penataan pola ruang dan tetap dapat memperlihatkan representasi simbol Buddah dengan orientasi ruang memusat serta tetap terjaganya hierarki sebagai ruang ibadah privat dan khusuk walaupun dengan elemen pelingkup dan atribut ruang yang berlainan. Berdasarkan hasil temuan penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa simbol masih dikenal hingga saat ini naumun direpresentasikan secara berbeda dari konsep awalnya yang berupa tempat suci atau penyimpanan benda suci Buddha. Penggunaan nama masih tetap digunakan dan fungsi cetiya sebagai ruang ibadah yang menampung aktivitas penghormatan pun masih dipertahankan.

 

Idealog: Jurnal Desain Interior & Desain Produk, 1 (1). pp. 1-25. ISSN 2477-0566